BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Pesatnya perkembangan teknologi informasi, telekomunikasi dan
broadcasting memberikan dampak yang besar bagi enterprise – yaitu organisasi
profit maupun non profit. Perubahan dunia menuju digital economy tersebut
membawa dampak yang besar terhadap kelangsungan suatu enterprise. Berlebihnya
informasi, munculnya teknologi baru dan usangnya teknologi lama dan
tekanan-tekanan dari competitor untuk menguasai market, membuat suatu
enterprise perlu melakukan perubahan-perubahan secara cepat dan efisien
berbasis yang teknologi dan informasi. Oleh karena itu diperlukan kemampuan
mengelola informasi dan teknologi, manajemen risiko, manajemen pengetahuan, dan
investasi. Keempat hal tersebut yang harus dilakukan oleh Chief Information
Officer ( CIO ).
Selain itu, Penggunaan IT (Information Technology) yang
semakin masif dalam seluruh bagian/ proses bisnis perusahaan saat ini
mengharuskan pengelolaan yang tepat dan terarah. Hal ini karena peranan IT
sebagai pemberi solusi bagi bisnis dan value center haruslah tetap selaras
dengan strategi bisnis dari perusahaan dan bukan hanya untuk kepentingan IT
semata.
Peranan ini dalam perusahaan/pemerintahan dipegang oleh
seorang Chief Information Officer (CIO). CIO sebagai pimpinan tertinggi dalam
pengelolaan IT memiliki tantangan yang sangat besar terutama dalam
menerjemahkan dunia IT yang kompleks menjadi ide-ide dan solusi yang mudah
dipahami oleh kalangan bisnis. Kemampuan mengkomunikasikan IT dalam bahasa yang
dimengerti oleh kalangan bisnis/pemerintahan sehingga mereka dapat mengambil
manfaat dari IT bagi kemajuan perusahaan menjadi salah satu peran penting dari
seorang CIO.
Seperti sering kita baca, dalam perusahaan modern yang kiprah
bisnisnya banyak menggeluti, atau bertumpu pada, informasi, ada posisi yang
tidak kalah penting dibandingkan CFO (chief financial officer), yakni CIO
(chief information officer). Mereka berdua ada di bawah CEO (chief executive
officer) yang mengendalikan keseluruhan operasi perusahaan.
Dalam dunia perbankan, yang kini juga banyak menyediakan layanan
elektronik berbasis internet, tanggung jawab CIO amat besar. Ia harus menjamin
keamanan transaksi, juga keamanan sistem informasi perusahaan yang amat
sensitif. Maklum saja, upaya pembobolan rahasia bank, juga pembajakan
transaksi, tak pernah surut. Selama ini, kejar-mengejar antara pihak yang
mengamankan dan pihak yang ingin menjebol bisa diibaratkan permainan komedi
putar, selain terus terjadi, sulit dikatakan mana sebenarnya yang ada di depan
(atau yang lebih unggul).
Dalam lingkup perusahaan, selain tugas pokok mengamankan
informasi, untuk CIO kini muncul tugas baru. Didorong oleh munculnya
perkembangan baru, CIO kini tidak saja berdimensi ”information”, tetapi juga
”innovation”, sehingga CIO adalah chief innovation officer.
Adapaun di dalam tubuh Direktorat Jenderal Pajak di
Kementerian Keuangan, berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor
37/PJ/2010 tentang kebijakan Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi
Direktorat Jenderal Pajak, Chief Information Officer (CIO) Direktorat Jenderal
Pajak yang selanjutnya disebut CIO DJP adalah seorang Pejabat Eselon II unit
kerja TIK yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk mengkoordinasikan
seluruh pelaksanaan kerangka kerja Tata Kelola TIK DJP.
Namun, secara peran dan keorganisasian, peran CIO di
Direktorat Jenderal Pajak, peran CIO juga di jalankan oleh dua Direktorat yaitu
Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan dan Direktorat Transformasi Teknologi
Komunikasi dan Informasi. Untuk itulah pada makalah kali ini akan dibahas
bagaimana perkembangan CIO dewasa ini, CIO dalam organisasi pemerintahan, dan
bagaimana adanya dua CIO dalam Direktorat Jenderal Pajak.
B. TUJUAN
PENULISAN
Makalah ini dibuat untu membahas peran, tanggung jawab dan
tantangan Chief Information Officer (CIO) secara umum pada saat ini dan
kedepannya dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Knowledge Management..
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Definisi Chief Information Officer (CIO)
Istilah CEO (chief executive officer) telah lama dikenal
dalam kosakata bisnis; setiap orang tau bahwa CEO adalah orang yang memiliki
pengaruh paling kuat dalam operasi perusahaan, dan umumnya memiliki jabatan
direktur utama atau ketua dewan direksi. Istilah seperti CFO, yaitu chief
financial officer, dan COO, yaitu chief operating officer, juga telah dikenal.
Pada tahun 1980-an diciptakan istilah yang serupa untuk manajer jasa informasi.
Istilah itu adalah CIO, yaitu chief information officer.
Istilah CIO memiliki pengertian lebih dari sekedar suatu
gelar. Istilah ini memiliki pengertian suatu peran yang seharusnya dilaksanakan
oleh manajer jasa informasi tingkat puncak. Seperti dimaksudkan oleh konsep
tersebut, chief information officer (CIO), adalah manajer jasa informasi yang
menyumbangkan keahlian manajerialnya tidak hanya untuk memecahkan masalah yang
berkaitan dengan sumber daya informasi tetapi juga berbagai area lain dari
operasi perusahaan.
Atribut yang penting adalah sebagai manajer serta ahli
teknis. Atribut lainnya meliputi keahlian politik, organisasi dan komunikasi;
keterlibatan, pemahaman dan pengalaman dalam pengelolaan keseluruhan bisnis,
pemahaman dan kemampuan untuk mengelola para ahli teknologi, pengembangan
keterampilan manajemen sumber daya manusia yang tepat, keterampilan perencanaan
dengan kepentingan khusus pada perencanaan strategis dan manajemen perubahan,
dan kepekaan terhadap dampak dari teknologi baru terhadap manusia, organisasi
dan sosial, dan kemampuan untuk secara proaktif merencanakan.
Deskripsi lain dari CIO adalah sebagai „bunglon‟ sehubungan
dengan atribut dan keahlian yang dibutuhkan. Empat karakteristik spesifik
diidentifikasi diyakini atribut dari CIO dan bunglon adalah: kemampuan untuk
mengubah, kemampuan untuk melihat dalam berbagai arah, untuk menyerang cepat
ketika dibutuhkan dan kemampuan untuk bertahan pada saat keadaan menjadi sulit.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa peran CIO memerlukan kemampuan untuk (a)
beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah, (b) mampu membayangkan
organisasi secara menyeluruh, (c) tetap di depan permainan pada pengembangan
teknologi, dan (d) bertahan pada saat kegagalan terjadi.
Dari diskusi tentang atribut dan keterampilan dari CIO itu
adalah jelas bahwa CIO, untuk berhasil mengintegrasikan dengan tim eksekutif
organisasi, tidak dapat murni menjadi ahli teknologi saja, tetapi juga harus
memiliki keterampilan manajerial yang memadai. Hal ini melalui keterampilan
manajerial yang efektif CIO dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam suatu
organisasi dan mendapatkan kredibilitas untuk investasi tersebut lebih lanjut.
B. Peran CIO
Munculnya tugas dan wewenang CIO di bidang strategis dan
semakin meningkatnya peran tersebut. CIO harus mengenali pengaruh TIK terhadap
organisasi, menentukan arah / strategi TIK yang menjamin adanya keselarasan
antara strategi bisnis dan strategi TIK. Adapun peran CIO adalah sebagai
berikut :
1.
Antisipasi perubahan teknologi, market
dan regulasi.
Kemampuan
mengenali perkembangan, potensi teknologi dan bisnis TIK dalam konteks
pemanfaatan peluang bagi organisasi dan transformasi organisasi dan perlu menekankan
kepada pelaku organisasi tentang pentingnya era web-based services dibandingkan
kemajuan teknologinya sendiri CIO bertugas mengorganisasikan dan melindungi
asset-aset TI perusahaan
2. Menentukan dan menjamin tatakelola TIK yang
benar dan baik dalam organisasi sehingga dinamika organisasi selalu menuju pada
tujuannya. CIO bertugas sebagai visioner yang memimpin dan mengendalikan
strategi perusahaaan.
3. Merumuskan
visi dan misi;
menterjemahkannya
menjadi tujuan organisasi; kemudian menjalankan dan memimpin organisasi TIK
untuk mencapai hasil-hasil sesuai visi, misi dan tujuan organisasi
4. CIO
menjadi leader dalam pengukuran dan pengembangan new computing.
Mendemonstrasikan
dan melakukan pengukuran nilai dari TIK, secara proaktif mengatur performansi
berdasarkan hasil yang didapatkan. CIO bertugas untuk menjembatani Gagap
teknologi
5.
Mendistribusikan teknik baru hasil
pengembangan, alat dan pendekatan yang dilakukan
C. Responsibilities/
Tanggung Jawab CIO
Di dalam buku
“Information Systems Management in Practice”, Ralph Sprague beserta rekannya
Barbara McNurlin menjabarkan bahwa setidaknya ada lima fungsi utama CIO di
sebuah perusahaan (Sprague et.al., 1993).
1. Memahami Bisnis
Tugas pertama dan utama yang merupakan tanggung jawab
eksekutif lain dalam jajaran direksi adalah mempelajari dan memahami secara
menyeluruh dan mendetail bisnis yang digeluti perusahaan. Kalau dahulu
manajemen inti cukup mempelajari semua komponen internal perusahaan (khususnya sehubungan
dengan produk-produk atau jasa-jasa yang ditawarkan), saat ini hal tersebut
tidaklah cukup. Persaingan yang begitu cepat dan lingkungan bisnis yang sangat
dinamis mengharuskan eksekutif perusahaan untuk selalu memantau dan mempelajari
aspek-aspek di luar perusahaan (eksternal) secara intens dan terus-menerus,
terutama yang berkaitan dengan perilaku pasar (market) dan pelanggan.
Setidak-tidaknya untuk dewasa ini ada tujuh cara yang terbukti efektif untuk
mempelajari hal internal dan eksternal perusahaan.
Ketujuh cara
tersebut adalah:
Memiliki armada SDM yang secara berkala mempelajari keadaan
pasar dan komponen eksternal lainnya;
Mempelajari secara mendalam proses-proses penciptaan produk
atau jasa yang ditawarkan perusahaan;
Mengundang bagian-bagian lain dalam perusahaan untuk
berdiskusi secara berkala;
Menghadiri seminar-seminar yang berhubungan dengan industri
terkait;
Membaca secara aktif publikasi-publikasi yang berkaitan
dengan produk, jasa, dan industri dimana perusahaan yang bersangkutan berada;
Menjadi anggota forum-forum bisnis maupun akademis terkait;
dan
Menjalin komunikasi aktif dan konsisten dengan para manajer
lini perusahaan.
2. Membangun Citra
Divisi
Tugas kedua yang menjadi tanggung jawab seorang CIO adalah
membangun kredibitilitas direktorat sistem informasi yang dipimpinnya. Hal ini
sangat penting mengingat banyak sekali karyawan yang menilai bahwa penggunaan
sistem informasi secara strategis merupakan ciri perusahaan di masa mendatang,
bukan saat ini. Namun walau bagaimanapun juga, direktorat sistem informasi yang
ada harus dapat membuktikan bahwa aktivitias-aktivitas yang dilakukan saat ini
adalah merupakan jalan atau jembatan menuju masa depan. Direktorat, departemen,
atau divisi sistem informasi (atau teknologi informasi) harus memiliki citra
yang baik di mata fungsi-fungsi lain dalam perusahaan. Strategi yang paling
efektif adalah dengan cara membantu para SDM di dalam perusahaan untuk meningkatkan
kinerjanya melalui utilisasi teknologi informasi, karena hal inilah yang
merupakan misi utama dari keberadaan sistem informasi di perusahaan. Pemberian
pendidikan dan pelatihan kepada para pengguna (users) sistem informasi, mulai
dari staf sampai dengan manajer eksekutif, merupakan salah satu cara lain untuk
meningkatkan citra divisi sistem informasi.
Dengan menghasilkan “produk-produk” yang terbukti dapat
membantu para karyawan dalam melaksanakan aktivitas perkerjaannya sehari-hari,
divisi sisten informasi akan dengan mudah mendapatkan kepercayaan dari
fungsi-fungsi lain di organisasi untuk membawa mereka ke bentuk perusahaan masa
depan.
3. Meningkatkan Mutu
Penggunaan Teknologi
“Tak kenal maka tak sayang”, mungkin demikianlah kalimat yang
cocok ditujukan bagi para karyawan yang belum pernah dan takut menggunakan
komputer. Melihat bahwa keberadaan teknologi informasi ditujukan untuk
meningkatkan kualitas kinerja SDM (employees empowerment), seorang CIO memiliki
tugas untuk memasyarakatkan teknologi informasi agar dipergunakan secara aktif
untuk para karyawan perusahaan. Selain pemberian program-program pelatihan
(training) yang bersifat edukatif, diperlukan suatu strategi untuk membuat
karyawan tertarik belajar lebih jauh dan memanfaatkan teknologi informasi yang
ada. Caranya bisa beraneka ragam, mulai dari yang bersifat hiburan
(entertainment) – seperti melalui permainan pada saat rekreasi perusahaan
(company outing) – sampai dengan yang sangat serius, seperti diadakannya
workshop khusus. Tujuannya adalah agar para karyawan akrab dengan komputer
(computer literate), sehingga selain dapat meningkatkan kualitas kerja mereka,
inovasi-inovasi baru berupa ide-ide pengembangan di masa mendatang akan turut
berpengaruh pada pengembangan sistem informasi di perusahaan.
4. Mencanangkan Visi
Teknologi Informasi
Tugas selanjutnya bagi seorang CIO adalah untuk menentukan
visi perusahaan melalui pemanfaatan sistem informasi di masa mendatang. Seorang
eksekutif senior yang baik, adalah yang selalu bersifat proaktif. Membantu
perusahaan mencanangkan visinya di masa mendatang adalah salah satu contoh
sikap proaktif yang harus dimasyarakatkan di kalangan perusahaan. Visi
pemanfaatan sistem informasi merupakan bagian integral yang tak terpisahkan
dari visi perusahaan secara umum.
Melihat bahwa abad sekarang dan mendatang adalah era yang
sangat bergantung kepada informasi, peranan CIO dalam melihat masa depan
perusahaan menempati posisi yang cukup dominan. Namun tugas CIO tidak hanya
terbatas untuk merumuskan visi saja, namun yang bersangkutan harus dapat
memasyarakatkan ide-ide yang ada ke seluruh jajaran manajemen dan staf (create
a vision). Apalah artinya sebuah visi yang bagus tapi tidak ada seorang pun
dari karyawan yang merasa perlu untuk mewujudkannya. Ada banyak teknik dan
teori yang ditawarkan kepada manajemen untuk membantu merumuskan dan menjual
visi kepada seluruh jajaran karyawan secara efektif. Hal ini sangat penting,
karena visi merupakan akar dari seluruh aktivitas yang dilakukan oleh
perusahaan dalam kegiatan bisnisnya setiap hari.
5. Pengembangan
Sistem Informasi
Misi terakhir dari seorang CIO tentu saja membuat semua hal
yang ada di atas menjadi nyata, yaitu merencanakan dan mengembangkan arsitektur
sistem informasi perusahaan, yang terdiri dari komponen-komponen seperti
software, hardware, brainware, proses dan prosedur, infrastruktur, standard,
dan lain sebagainya. Secara berkesinambungan, seorang CIO harus dapat
me-utilisasikan sistem informasi yang dimiliki perusahaan saat ini secara
optimum, sejalan dengan rencana pengembangannya di masa mendatang. Suatu kali
seorang praktisi manajemen mengatakan bahwa seorang CIO yang baik akan dapat
“memanusiakan” karyawannya dengan cara memanfaatkan teknologi informasi untuk
membantunya melaksanakan aktivitas pekerjaan sehari-hari.
D. Tantangan CIO
Prioritas dan kebutuhan Teknologi Informasi (TI) perusahaan
telah berevolusi, Chief Information Officer (CIO) harus bisa mengatasi
kebutuhan bisnis yang terus berubah. Anggaran yang menyusut, ditambah
pembengkakan biaya dan meningkatnya penyimpanan data mengakibatkan
proyek-proyek, pembelanjaan, prioritas, dan kepemimpinan TI dipertanyakan. CIO
harus mampu mengelola tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan baru.
Di samping tuntutan bisnis, dunia kini bergerak ke TI yang
"hijau" dan perusahaan melihat kebutuhan mengurangi konsumsi energi
dan emisi karbon untuk memangkas biaya operasional.
1. Kendalikan emisi
karbon dari pembangkit listrik (Green Computing)
Seiring perhatian yang semakin besar terhadap pemanasan
global, diharapkan semakin banyak pemerintahan memberlakukan panduan dan
peraturan tentang emisi karbon. Perusahaan-perusahaan besar juga akan
merumuskan standar pengurangan emisi karbon. Sumber emisi yang cukup besar
adalah pembangkit listrik. Kebutuhan yang semakin besar untuk daya komputasi,
bandwidth jaringan, dan kapasitas storage akan meningkatkan kebutuhan daya dan
pendinginan pada data center. TI harus mencari cara mengelola infrastruktur
data centernya untuk meminimalkan konsumsi energi.
2.
Melakukan lebih banyak hal untuk menangani pertumbuhan data
Data terstruktur seperti database, meledak karena harus
menyimpan lebih banyak data secara lebih lama untuk memenuhi tuntutan
kepatutan. Sementara itu data semi-terstruktur seperti email, halaman Web, dan
data dokumen meningkat secara dramatis. Tekanan disana-sini akan mendorong
pengarsipan data untuk mengurangi produksinya. Hal ini akan menciptakan tipe
baru sistem pengarsipan yang bisa dikembangkan kapasitasnya hingga mencapai
petabyte, sekaligus menyediakan kemampuan pencarian konten di lintas data yang berbeda-beda.
3. Memastikan
menyimpan data secara efisien
Semakin berkembangnya kesadaran bahwa penyimpanan data tidak
lagi efisien, ditandai dengan rendahnya utilisasi dan salinan data yang
berlebih-lebihan, membeli lebih banyak storage dengan arsitektur lama bukan
lagi pilihan. Dibutuhkan satu arsitektur baru yang bisa ditingkatkan kinerja,
konektivitas, dan kapasitasnya hingga hitungan beberapa petabyte tanpa
menimbulkan gangguan pada operasional sistem. Arsitektur baru itu juga harus
bisa menyediakan layanan data dan storage baru seperti proses pengolahan
multi-protocol dan pencarian umum, di lintas storage array heterogen dengan
pengelolaan terpusat dan aman.
4. Memastikan
ketersediaan data dan aplikasi
Seiring kebutuhan ketersediaan aplikasi, TI memerlukan
kemampuan untuk memindahkan data tanpa gangguan terhadap aplikasi. Saat ini
peranti lunak pemindah data terbukti sangat mengganggu kelangsungan operasi.
Perpindahan data harus dilakukan melalui sistem storage yang bisa mengirimkan
data dengan kecepatan tinggi di atas link Fibre Channel tanpa membutuhkan
siklus pemrosesan aplikasi. Ini akan menjadi sangat penting untuk migrasi data
pada saat pemutakhiran storage ke kapasitas yang semakin besar. Seiring
pergantian waktu, peran CIO pun berubah, begitu juga dengan tantangan yang
mereka hadapi. Di luar menentukan arah teknologi dari perusahaan, CIO kini juga
mulai berperan mendorong bisnis. Beruntung, kini semakin banyak teknologi
tersedia di pasar yang bisa membantu CIO menangani berbagai tuntutan baru itu.
Teknologi-teknologi baru seperti control unit untuk virtualisasi storage,
deduplikasi data, thin provisioning dan services oriented storage kini tersedia
bagi CIO untuk mengatasi masalah biaya, pengelolaan dan alokasi sumber daya di
dalam infrastruktur teknologi. Maju ke 2008, akan menjadi tanggung jawab CIO
untuk menyeimbangkan kebutuhan TI perusahaan dengan kebutuhan bisnis, dan
berjalan di dalam garis tipis antara keduanya untuk memastikan bahwa tidak ada
sisi yang menjadi korban dari kemajuan di sisi yang lain.
5. Bisnis
Berbasis Efisiensi
Tantangan rata-rata Chief Information Officer dewasa ini
adalah mencari tahu cara bagaiman agar perusahaan yang dipimpin bisa lebih
agile. Artinya, pemimpin perlu mencari cara agar dapat mengoperasikan perusahaan
dan menjalankan bisnis dengan basis efisiensi.
6. Membangun
Infrastruktur Informasi
Yang tak kalah penting, mereka (para CIO) juga perlu
memikirkan bagaimana membangun infrastruktur informasi agar lebih efektif di
saat pertumbuhan informasi berjalan secara signifikan tiap waktunya.
Sebagai contoh, misalnya di industri telekomunikasi dan
perbankan. Tingginya pertumbuhan pelanggan atau nasabah, termasuk pertumbuhan
data-data, baik data terstruktur ataupun data tidak terstruktur, mendesak
perusahaan untuk mengembangkan infrastruktur mereka.
7. Manajemen
Informasi
Selain itu, pengelolaan risiko hilangnya informasi nasabah
atau pelanggan juga tidak kalah penting. Dewasa ini, perusahaan-perusahaan
dituntut untuk menerapkan strategi pencegahan hilangnya informasi user (data
loss prevention).
Di luar negeri, tiap-tiap bank atau perusahaan
telekomunikasi, atau pun perusahaan skala enterprise lainnya, telah diwajibkan
oleh pemerintah untuk memiliki strategi khusus dalam mencegah hilangnya data
pelanggan mereka.
Hal seperti itu juga perlu ditiru oleh pemerintah Indonesia.
Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan-kebijakan serupa terkait dengan
pencegahan hilangnya data pelanggan.
E. Teori Organisasi
Manusia adalah mahluk social yang cinderung untuk hidup
bermasyarakat serta mengatur dan mengorganisasi kegiatannya dalam mencapai
sautu tujuan tetapi karena keterbatasan kemampuan menyebabkan mereka tidak
mampu mewujudkan tujuan tanpa adanya kerjasama. Hal tersebut yang mendasari
manusia untuk hidup dalam berorganisasi. Adapun beberapa definisi tentang
Organisasi yaitu:
Menurut ERNEST
DALE:
Organisasi
adalah suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan
pemeliharaan suatu struktur atau pola hubunngan kerja dari orang-orang dalam
suatu kerja kelompok.
Menurut CYRIL
SOFFER:
Organisasi
adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam
suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi
tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.
Menurut KAST
& ROSENZWEIG:
Organisasi
adalah sub system teknik, sub system structural, sub system pshikososial dan
sub system manajerial dari lingkungan yang lebih luas dimana ada kumpulan
orang-orang berorenteasi pada tujuan.
Definisi UMUM:
“Kelompok orang
yang secara bersama-sama ingin mencapai tujuan”
CIRI-CIRI
ORGANISASI:
Lembaga social
yang terdiri atas kumpulan orang dengan berbagai pola interaksi yang
ditetapkan.
Dikembangkan
untuk mencapai tujuan
Secara sadar
dikoordinasi dan dengan sengaja disusun
Instrumen
social yang mempunyai batasan yang secara relatif dapat diidentifikasi.
Dibawah ini
merupakan bagan tentang perkembangan teori organisasi:
1. Teori
Organisasi Klasik
Teori ini biasa disebut dengan “teori tradisional” atau
disebut juga “teori mesin”. Berkembang mulai 1800-an (abad 19). Dalam teori ini
organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnnya
terspesialisasi serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku tidak
mengandung kreatifitas. Dalam teori ini organisasi digambarkan seperti toet
piano dimana masing-masing nada mempunyai spesialisasi (do.. re.. mi.. fa..
so.. la.. si..) dimana apabila tiap nada dirangkai maka akan tercipta lagu yang
indah begitu juga dengan organisasi.
Dikatakan teori mesin karena organisasi ini menganggab
manusia bagaikan sebuah onderdil yang setiap saat bisa dipasang dan
digonta-ganti sesuai kehendak pemimpin.
Defisi
Organisasi menurut Teori Klasik:
Organisasi merupakan
struktur hubungan, kekuasaan-kejuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan,
kegiatan-kegiatan, komunikasi dan factor-faktor lain apabila orang bekerja
sama.
Teori Organisasi
klasik sepenuhnya menguraikan anatomi organisasi formal. Empat unsure pokok yang
selalu muncul dalam organisasi formal:
a. Sistem kegiatan yang
terkoordinasi
b. Kelompok orang
c. Kerjasama
d. Kekuasaan
& Kepemimpinan
Sedangkan
menurut penganut teori klasik suatu organisasi tergantung pada empat kondisi
pokok: Kekuasaan) Saling melayani) Doktrin) Disiplin)
Sedangkan
yang dijadikan tiang dasar penting dalam organisasi formal adalah:
a. Pembagian
kerja (untuk koordinasi)
b. Proses Skalar
& Fungsional (proses pertumbuhan vertical dan horizontal)
c. Struktur (hubungan
antar kegiatan)
d.
Rentang kendali (berapa banyak atasan bisa mengendalikan bawahan).
Teori Klasik berkembang dalam 3 Aliran:
BIROKRASI) Dikembangkan
dari Ilmu Sosiologi
ADMINISTRASI) Langsung dari praktek manajemen
memusatkan Aspek Makro sebuah organisasi.
MANAJEMEN ILMIAH) Langsung
dari praktek manajemen memusatkan Aspek Mikro sebuah organisasi.
Semua teori
diatas dikembangkan sekitar tahun 1900-1950. Pelopor teori ini kebanyakan dari
sebuah negara berbentuk kerajaan “Mesir, Cina & Romawi”.
TEORI BIROKRASI
Dikemukakan oleh “MAX WEBER” dalam buku “The Protestant Ethic
and Spirit of Capitalism” dan “The Theory of Social and Economic Organization”.
Istilah BIROKRASI berasal dari kata
LEGAL_RASIONAL:
“Legal”
disebakan adanya wewenang dari seperangkat aturan prosedur dan peranan yang
dirumuskan secara jelas. Sedangkan “Rasional” karena adanya penetapan tujuan
yang ingin dicapai.
Karekteristik-karekteristik
birokrasi menurut Max Weber:
Pembagian kerja
Hirarki
wewenang
Program
rasional
Sistem
Prosedur
Sistem Aturan
hak kewajiban
Hubungan antar
pribadi yang bersifat impersonal
TEORI
ADMINISTRASI
Teori ini dikembangkan oleh Henry Fayol, Lyndall Urwick dari
Eropa dan James D. Mooney, Allen Reily dari Amerika.
HENRY FAYOL (1841-1925):
Seorang industrialis asal Perancis tahun 1916 menulis sebuah buku “Admistration
industrtrielle et Generale” diterjemahkan dalam bahasa inggris 1926 dan baru
dipublikasikan di amerika 1940.
14 Kaidah manjemen
menurut Fayol yang menjadi dasar teori administrasi:
Pembagian
kerja
Wewenang &
tanggung jawab
Disiplin
Kesatuan
perintah
Kesatuan
pengarahan
Mendahulukan
kepentingan umum
Balas jasa
Sentralisasi
Rantai Skalar
Aturan
Keadilan
Kelanggengan
personalia
Inisiatif
Semangat korps
Fayol membagi
kegiatan industri menjadi 6 kelompok:
Kegiatan
Teknikal (Produksi, Manufaktur, Adaptasi)
Kegiatan
Komersil (Pembelian, Penjualan, Pertukaran)
Kegiatan
Financial (penggunaan optimum modal)
Kegiatan
Keamanan
Kegiatan
Akuntansi
Kegiatan
Manajerial atau “FAYOL‟s FUNCTIONALISM” yaitu:
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Pemberian perintah
d. Pengkoordinasian
e. Pengawasan
JAMES D. MOONEY
& ALLEN REILLY :1931) Menerbitkan sebuah buku “ONWARD INDUSTRY” inti dari
pendapat mereka adalah “koordinasi merupakan factor terpenting dalam
perencanaan organisasi”. Tiga prinsip yang harus diterapkan dalam sebuah
organisasi menurut mereka adalah:
a. Prinsip Koordinasi
b. Prinsip Skalar & Hirarkis
c. Prinsip
Fungsional
MANAJEMEN ILMIAH
Dikembangkan tahun 1900 oleh FREDERICK WINSLOW TAYLOR).
Definisi Manajemen Ilmiah:
“Penerapan metode ilmiah pada studi, analisa dan pemecahan
masalah organisasi” atau “Seperangkat mekanisme untuk meningkatkan efesiensi
kerja”. F.W. TAYLOR menuangkan ide dalam tiga makalah: “Shop Management”, “The
Principle Oif Scientific Management” dan “Testimony before the Special House
Comitte”. Dari tiga makalah tersebut lahir sebuah buku “Scientific Management”.
Berkat jasa-jasa yang sampai sekarang konsepnya masih
dipergunakan pada praktek manajemen modern maka F.W. TAYLOR dijuluki sebagai
“BAPAK MANAJEMEN ILMIAH”.
Empat kaidah
Manajemen menurut Frederick W. Taylor:
a. Menggantikan metode kerja dalam
praktek dengan metode atas dasar ilmu pengetahuan.
b. Mengadakan seleksi, latihan dan
pengembangan karyawan
c. Pengembangan
ilmu tentang kerja, seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah perlu
intregasikan.
d. Perlu dikembangkan
semangat dan mental karyawan untuk mencapai manfaat manajemen ilmia
2. Teori Neoklasik
Aliran yang berikutnya muncul adalah aliran Neoklasik disebut
juga dengan “Teori Hubungan manusiawi”. Teori ini muncul akibat ketidakpuasan
dengan teori klasik dan teori merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini
menekankan pada “pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai
individu ataupun kelompok kerja”.
HUGO MUNSTERBERG
Salah tokoh neoklasik pencetus “Psikologi Industri”. Hugo
menulis sebuah buku “Psychology and Industrial Effeciency” tahun 1913. Buku
tersebut merupakan jembatan antara manajemen ilmiah dan neoklasik. Inti dari
pandangan Hugo adalah menekankan adanya perbedaan karekteristik individu dalam
organisasi dan mengingatkan adannya pengaruh factor social dan budaya terhadap
organisasi.
Munculnya teori neoklasik diawali dengan inspirasi percobaan
yang dilakukan di Pabrik Howthorne tahun 1924 milik perusahaan Western Elektric
di Cicero yang disponsori oleh Lembaga Riset Nasional Amerika. Percobaan yang
dilakukan ELTON MAYO seorang riset dari Western Electric menyimpulkan bahwa pentingnya
memperhatikan insentif upah dan Kondisi kerja karyawan dipandang sebagai factor
penting peningkatan produktifitas.
Dalam
pembagian kerja Neoklasik memandang perlunya:
a. Partisipasi
b. Perluasan
kerja
c.
Manajemen bottom_up
3. Teori Modern
Teori ini muncul pada tahun 1950 sebagai akibat ketidakpuasan
dua teori sebelumnya yaitu klasik dan neoklasik. Teori Modern sering disebut
dengan teori “Analiasa Sistem” atau “Teori Terbuka” yang memadukan antara teori
klasik dan neokalsi. Teori Organisasi Modern melihat bahwa semua unsure
organisasi sebagai satu kesatuan yang saling bergantung dan tidak bisa
dipisahkan. Organisasi bukan system tertutup yang berkaitan dengan lingkungan
yang stabil akan tetapi organisasi merupakan system terbuka yang berkaitan
dengan lingkunngan dan apabila ingin survivel atau dapat bertahan hidup maka ia
harus bisa beradaptasi dengan lingkungan.
TEORI MODERN vs
TEORI KLASIK
a. Teori Klasik memusatkan pandangan pada analisa
dan deskripsi organisasi sedangkan Teori Modern menekankan pada perpaduan &
perancangan sehingga terlihat lebih menyeluruh.
b. Teori Klasik
membicarakan konsep koordinasi, scalar, dan vertical sedangkan Teori Modern
lebih dinamis, sangat komplek, multilevel, multidimensi dan banyak variable
yang dipertimbangkan.
BAB III
PEMBAHASAN
(CONTOH STUDI
KASUS)
1. Studi
kasus : CIO Pada Direktorat Jenderal Pajak
A. Chief Information Officer (CIO)
dalam pemerintrahan
Sektor swasta dan sektor publik memiliki beberapa persamaan
dan perbedaan. Perbedaan mendasar dari keduanya adalah dalam kaitannya dengan
perspektif waktu, pengukuran kinerja, hubungan dengan media, otoritas, kendala
hukum, dan kendala personil. Tiga karakteristik internal sektor publik yang
menjadi poin perbedaan adalah:
·
Lebih banyak birokrasi, sejumlah besar prosedur formal,
kurang fleksibel, dan lebih menghindari resiko dibandingkan dengan sektor
swasta;
·
Lebih banyak formalitas, menyiratkan bahwa sektor publik
beroperasi dengan banyak aturan yang tidak perlu dan kontra-produktif, dan
lebih bergantung pada aturan dan proses dibandingkan hasil;
·
Otonomi manajerial rendah, sektor publik memberi kebebasan
rendah bagi manajer untuk bereaksi sesuai keadaan ,yang dicontohkan oleh
kebijaksanaan manajer publik 'atas isu-isu sumber daya manusia yang umumnya
melibatkan proses yang kompleks dan memakan waktu untuk mengikuti perekrutan,
pemecatan dan promosi, yang, sebagai alternatif pilihan, umumnya dihindari.
1. Teknologi
Informasi Komunikasi dalam Pemerintahan
Penggunaan teknologi informasi yang dapat meningkatkan
hubungan antara pemerintah dengan pihak-pihak lain disebut e-government.
Penggunaan
hubungan ini dapat dibedakan menjadi 3 bentuk, yaitu :
G2C (Government
to citizen), hubungan antara pemerintah dengan masyarakat,
G2B (Government
to business), hubungan antara pemerintah dengan pengusaha,
G2G (Government to Government), hubungan antara pemerintah dengan
pemerintah.
Konsep e-government mengacu pada penggunaan teknologi
informasi dan komunikasi oleh pemerintahan, misalnya menggunakan jaringan
internet. E-government dapat meningkatkan hubungan antara pemerintah dengan
penduduk, bisnis dan kegiatan lainnya. Manfaat teknologi informasi dan
komunikasi dalam bidang pemerintahan antara lain sebagai berikut :
a. Meningkatkan
hubungan antara pemerintah dengan dunia usaha dan masyarakat, kerena informasi
lebih mudah diperoleh.
b. Meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintah dengan adanya transparansi
kegiatan pemerintah.
c. Meningkatkan
kualitas layanan kepada masyarakat, yaitu : masyarakat dapat dilayani kapan pun
dan dimana pun tanpa memandang jam buka kantor dan bahkan tanpa perlu datang ke
kantor pemerintahan.
d. Tersedianya
informasi yang mudah diakses oleh masyarakat melalui internet, sehingga
masyarakat dapat mengambil keputusan dengan benar.
e. Hilangnya birokrasi
yang selama ini seolah-oleh menjadi penghalang bagi masyarakat dalam
berhubungan dengan pemerintah sehingga pelaksanaan pemerintahan menjadi lebih
efektif dan efisien.
2. Faktor
pengembangan e-Government
Bagian berikut akan menggambarkan perubahan yang paling
penting dan luar biasa dari perkembangan lima tahun terakhir di e-government
yaitu :
a.
E-Government dan Reformasi Administrasi Publik.
Banyak
pemerintah, terutama di negara-negara berkembang, mulai mengubah kesadaran
mereka tentang peran TIK di sektor publik. Pemerintah telah menjadi sadar bahwa
itu tidak cukup untuk memperkenalkan TIK untuk proses yang ada internal mereka,
tetapi untuk menggunakan TIK untuk membantu proses re-engineering dalam organisasi
pemerintah bersamaan dengan beberapa lainnya e-government inisiatif.
b. Agent-Centric
to Citizen-Centric
Pemerintah
diinvestasikan modal besar dalam infrastruktur ketika mereka mulai e-government
program. Mengubah dari solusi berbasis pasokan untuk memenuhi permintaan warga,
pemerintah secara bertahap bergeser ke penyediaan e-layanan yang paling nyaman
bagi warga dan pemangku kepentingan lainnya dalam masyarakat mereka.
c. E-Government
to E-Governance
Ada perubahan
bertahap dalam cara pemerintah berinteraksi dengan warganya: dari hanya
menyediakan layanan, pemerintah telah membentuk virtual-ruang untuk warga
negara untuk memiliki suara mereka. Dengan cara ini, warga telah diberi
kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan dengan menggunakan
ICT. Penguatan proses demokrasi dengan cara ICT dibawa ke terdepan pentingnya
layanan kota elektronik. Upaya untuk desentralisasi dalam strategi e-Government
dapat dengan jelas dilihat hingga saat ini dalam negara-negara dengan budaya
demokrasi yang kuat di mana menikmati kota yang cukup besar kemerdekaan.
Pergeseran dari administrasi untuk pelayanan sosial dan politik dan sebagai
konsekuensi pergeseran dari federal untuk lokal e-government mungkin dianggap
sebagai transisi dari e-pemerintah untuk e-governance.
d.
Peran baru pemerintah: CIO
Bersamaan dengan
pengembangan e-government, CIO di sektor publik telah yang diberi tugas lebih
dan lebih. Dalam tanggung jawab masa lalu mereka adalah informasi utama
teknologi dan posisi mereka adalah direktur teknologi informasi. Namun, saat
ini keprihatinan mereka meliputi tidak hanya teknologi tetapi juga kerja sosial
dan administrasi. Seperti Akibatnya, banyak pemerintah di dunia perubahan isi
dan metode pelatihan dan memilih CIO di sektor publik menjadi lebih
komprehensif.
Pada umumnya
implementasi TIK yang efektif selalu memerlukan perubahan/penyelarasan pada
aspek-aspek yang lain. Dalam konteks pemerintahan, implementasi TIK harus
disertai juga penyelarasan tujuan dan sistem birokrasi yang ada. Pada kenyataannya,
proses asimilasi TIK ke sistem birokrasi, atau bahkan reformasi sistem
birokrasi itu sendiri sebagai syarat mengefektifkan implementasi TIK, tidaklah
mudah dilakukan karena berbagai kendala. Dalam posisi inilah GCIO -Government
CIO- (dan staf lain yang berperan sebagai information officers – IO)
memegang peranan penting. GCIO (dan IO) berperan sebagai agent of change:
menjadi promotor perubahan, menetapkan arahan dan kebijakan, dan merencanakan,
mengeksekusi, serta mengevaluasi berbagai program yang terkait dengan
implementasi TIK.
Dengan
memperhatikan konsep dasar tentang peran GCIO, dan kondisi khas yang pada umumnya
dimiliki oleh pemerintah daerah di Indonesia, maka diusulkan untuk merinci
peran GCIO Indonesia sebagai berikut:
a.
Penyusun strategi TIK
Dapat dikatakan
saat ini semua pemerintah daerah di Indonesia sedang berada dalam tahap awal
pembangunan e-government seperti diamanahkan oleh Undang-Undang no. 3/2003.
Menurut Bank Dunia, pemanfaatan TIK dalam e-government pada akhirnya harus bisa
melahirkan transformasi relasi antara pemerintah dengan warga, antara
pemerintah dengan dunia usaha, dan antara sesama lembaga pemerintah sendiri.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah memerlukan visi, misi, dan
strategi pemanfaatan TIK yang tepat. Salah satu tugas GCIO adalah
memformulasikan ketiga hal fundamental tersebut, yang diselaraskan dengan visi,
misi, dan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah.
b.
Promotor penyelarasan proses-proses bisnis/birokrasi
TIK sebagai
enabler pada akhirnya harus berjalan seiring dengan proses-proses birokrasi
yang ada. Pada umumnya sistem dan proses birokrasi yang ada saat ini tidak
kondusif bagi pemanfaatan TIK secara optimal, sehingga perlu ada pendekatan
top-down agar keselarasan antara keduanya bisa tercapai. Pendekatan harus
secara top-down karena pada umumnya penyelarasan TIK dengan sistem/proses
birokrasi melibatkan penataan birokrasi (struktur, mekanisme kerja, tupoksi,
dan sebagainya). GCIO pada posisi strategis (misalkan setingkat Sekda) dapat
mengemban peran sebagai promotor dan inisiator bagi penyelarasan ini.
c.
Promotor manajemen solusi TIK
Seorang GCIO
harus dapat melihat bagaimana TIK memberikan solusi terhadap masalah-masalah
yang dihadapi. Sebagai promotor untuk solusi-solusi TIK, GCIO harus dapat
mendefinisikan tujuan dan sasaran solusi yang akan diimplementasikan, strategi
pengembangan dan operasionalisasinya, dan tahapan-tahapan yang harus
dijalankan.
d.
Penentu kebutuhan TIK.
Sebagai
konsekuensi dari peran no. 2 dan 3, pemerintah daerah akan memerlukan sarana
dan fasilitas TIK (perangkat keras, jaringan, perangkat lunak, dan data).
Penentuan kebutuhan dengan memanfaatkan prinsip efisiensi dan efektivitas perlu
dilakukan oleh GCIO. Lingkupnya adalah pada seluruh kabupaten/kota, sehingga
perlu memperhitungkan alokasi dan pemakaian bersama di lembaga-lembaga yang
ada.
e.
Perancang anggaran TIK
GCIO juga perlu
memiliki fungsi perancang anggaran, untuk menjamin kebutuhan-kebutuhan TIK
dapat dianggarkan secara tepat guna.
f. Pengelola
operasional sistem dan teknologi informasi
Pada tataran
operasional, GCIO diperlukan untuk menjamin operasional sistem dan teknologi
informasi dapat berjalan dengan baik.
g. Penilai kinerja
TIK
Implementasi TIK
yang berjalan perlu dinilai kinerjanya untuk berbagai kepentingan. Untuk
kepentingan audit, penilaian kinerja dilakukan untuk mengetahui kelayakan
implementasi dengan anggaran. Untuk kepentingan pengembangan dan penyempurnaan,
evaluasi kinerja dapat memberitahu aspek-aspek apa saja yang perlu mendapatkan
perhatian. GCIO harus dapat menjadi promotor maupun eksekutor dalam evaluasi
kinerja TIK.
Ketujuh peran di
atas tentu saja tidak dijalankan oleh satu jenis GCIO saja. Jika
diidentifikasi, ada peran yang memerlukan kekuatan struktural pada level
strategik, ada peran yang memerlukan kapabilitas koordinasi fungsional, dan ada
peran yang memerlukan kapabilitas teknis operasional. Masing-masing memerlukan
GCIO pada level yang dimaksudkan. Persoalannya yang muncul kemudian adalah bagaimana
mendefinisikan posisi jenis-jenis GCIO tersebut pada struktur organisasi
pemerintah daerah, menentukan tupoksinya dan kompetensi yang diharapkan, dan
menyiapkan SDM-SDMnya.
B. Sejarah Organisasi Direktorat Jenderal Pajak
Organisasi Direktorat Jenderal Pajak pada mulanya merupakan
perpaduan dari beberapa unit organisasi yaitu :
Jawatan Pajak yang bertugas melaksanakan pemungutan pajak
berdasarkan perundang-undangan dan melakukan tugas pemeriksaan kas Bendaharawan
Pemerintah;
Jawatan Lelang yang bertugas melakukan pelelangan terhadap
barang-barang sitaan guna pelunasan piutang pajak Negara;
Jawatan Akuntan Pajak yang bertugas membantu Jawatan Pajak
untuk melaksanakan pemeriksaan pajak terhadap pembukuan Wajib Pajak Badan; dan
Jawatan Pajak Hasil Bumi (Direktorat Iuran Pembangunan
Daerah pada Ditjen Moneter) yang bertugas melakukan pungutan pajak hasil bumi
dan pajak atas tanah yang pada tahun 1963 diubah menjadi Direktorat Pajak Hasil
Bumi dan kemudian pada tahun 1965 berubah lagi menjadi Direktorat Iuran
Pembangunan Daerah (IPEDA).
Dengan keputusan Presiden RI No. 12 tahun 1976 tanggal 27
Maret 1976, Direktorat Ipeda diserahkan dari Direktorat Jenderal Moneter kepada
Direktorat Jenderal Pajak. Pada tanggal 27 Desember 1985 melalui Undang-undang
RI No. 12 tahun 1985 Direktorat IPEDA berganti nama menjadi Direktorat Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB).
Demikian juga unit kantor di daerah yang semula bernama
Inspeksi Ipeda diganti menjadi Inspeksi Pajak Bumi dan Bangunan, dan Kantor
Dinas Luar Ipeda diganti menjadi Kantor Dinas Luar PBB.
Untuk mengkoordinasikan pelaksanaan tugas di daerah, dibentuk
beberapa kantor Inspektorat Daerah Pajak (ItDa) yaitu di Jakarta dan beberapa
daerah seperti di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Indonesia Timur. Inspektorat
Daerah ini kemudian menjadi Kanwil Ditjen Pajak (Kantor Wilayah) seperti yang
ada sekarang ini.
ÿ 1924 – Djawatan
Padjak dibawah Departemen Van Financien berdasar Staatsblad 1924 No. 576
Artikel 3
ÿ 1942 – Djawatan
Padjak dibawah Zaimubu (Djawatan Padjak, Bea Cukai dan Padjak Hasil Bumi)
ÿ 1945 –
berdasarkan Penetapan Pemerintah No.2/SD Urusan Bea ditangani Departemen
Keuangan Bahagian Padjak
ÿ 1950 – Djawatan
Padjak dibawah Direktur Iuran Negara
ÿ 1958 – Djawatan
Padjak dibawah vertikal langsung Departemen Keuangan
ÿ 1964 – Djawatan
Padjak berubah menjadi Direktorat Pajak dibawah pimpinan Menteri Urusan
Pendapatan Negara
ÿ 1965 –
Direktorat IPEDA di bawah Ditjen Moneter
ÿ 1966 –
Direktorat Padjak diubah menjadi Direktorat Jenderal Pajak
ÿ 1976 –
Direktorat IPEDA dialihkan Ke Direktorat Jenderal Pajak
ÿ 1983 – Tax
Reform I berlakunya Self Assesment
ÿ 1985 – IPEDA
berganti nama menjadi Direktorat PBB
ÿ 2000 – Tax
Reform II
ÿ 2002 –
Modernisasi Birokrasi
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang merupakan institusi
penting di negara ini dimana saat ini dipercaya mengumpulkan sekitar 80% dari
dana APBN, ternyata mempunyai sejarah panjang sejak sebelum proklamasi
kemerdekaan RI. Sejarah singkat DJP terbagi dalam beberapa periode sebagai
berikut:
1. Pra
Proklamasi Kemerdekaan RI
Pada
zaman penjajahan Belanda, tugas pemerintahan dalam bidang moneter dilaksanakan
oleh Departemen Van Financien dengan dasar hukumnya yaitu Staatsblad 1924
Number 576, Artikel 3.
Pada
masa penguasaan Jepang, Departemen Van Financien diubah namanya menjadi
Zaimubu. Djawatan-djawatan yang mengurus penghasilan negara seperti Djawatan
Bea Cukai, Djawatan Padjak, serta Djawatan Padjak Hasil Bumi. Ketiganya
digabungkan dan berada di bawah seorang pimpinan dengan nama Syusekatjo.
2. Periode
1945-1959
Maklumat
Menteri Keuangan Nomor 1 Tanggal 5 Oktober 1945 yang menyatakan bahwa seluruh
Undang-undang atau peraturan tentang perbendaharaan Keuangan Negara, pajak,
lelang, bea dan cukai, pengadaan candu dan garam tetap menggunakan
Undang-Undang atau peraturan yang ada sebelumnya sampai dengan dikeluarkannya
peraturan yang baru dari pemerintah Indonesia. Sedangkan Penetapan Pemerintah
tanggal 7 Nopember 1945 No. 2/S.D. memutuskan bahwa urusan bea ditangani
Departemen Keuangan Bahagian Padjak mulai tanggal 1 Nopember 1945 sesuai dengan
Putusan Menteri Keuangan tanggal 31 Oktober 1945 No. B.01/1.
Akhir
tahun 1951 Kementerian Keuangan mengadakan perubahan dimana Djawatan Padjak,
Djawatan Bea dan Cukai dan Djawatan Padjak Bumi berada dibawah koordinasi
Direktur Iuran Negara.
3. Periode
1960-1994
Tahun
1964 Djawatan Padjak diubah menjadi Direktorat Pajak yang berada dibawah
pimpinan Pembantu Menteri Urusan Pendapatan Negara. Kemudian pada tahun 1966 berdasarkan
Keputusan Presidium Kabinet No. 75/U/KEP/11/1966 tentang Struktur Organisasi
dan Pembagian Tugas Departemen-Departemen, Direktorat Padjak diubah menjadi
Direktorat Djenderal Padjak yang membawahi Sekretariat Direktorat Djenderal,
Direktorat Padjak Langsung, Direktorat Padjak Tidak Langsung, Direktorat
Perentjanaan dan Pengusutan,dan Direktorat Pembinaan Wilayah.
C. Tugas Pokok Dan Fungsi Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan
Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan mempunyai tugas
merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
teknologi informasi perpajakan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Direktorat
Teknologi Informasi Perpajakan menyelenggarakan fungsi:
·
penyiapan perumusan kebijakan di bidang teknologi informasi
perpajakan;
·
penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang teknologi informasi
perpajakan;
·
penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di
bidang teknologi informasi perpajakan;
·
penyiapan pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang
teknologi informasi perpajakan; dan
·
pelaksanaan tata usaha direktorat.
Direktorat
Teknologi Informasi Perpajakan terdiri atas:
1. Subdirektorat
Pelayanan Operasional;
Subdirektorat
Pelayanan Operasional mempunyai tugas melaksanakan penyiapan penelaahan, dan
penyusunan kebijakan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan
kebijakan teknis operasional, serta pelaksanaan pemberian pelayanan operasional
mengenai sistem informasi, aplikasi, registrasi Wajib Pajak, dukungan teknis
dan jaringan komunikasi data, serta administrasi program aplikasi.
Dalam
melaksanakan tugas tersebut, Subdirektorat Pelayanan Operasional
menyelenggarakan fungsi:
penyiapan bahan penelaahan dan penyusunan kebijakan teknis
operasional pemberian pelayanan operasional mengenai sistem informasi,
aplikasi, registrasi Wajib Pajak, dukungan teknis, dan jaringan komunikasi
data;
pemantauan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan
kebijakan teknis operasional pemberian pelayanan operasional mengenai sistem
informasi, aplikasi, registrasi Wajib Pajak, dukungan teknis, dan jaringan
komunikasi data;
pemberian pelayanan operasional mengenai sistem informasi,
aplikasi, registrasi Wajib Pajak, dukungan teknis, dan jaringan komunikasi
data; dan
administrasi program aplikasi.
Subdirektorat
Pelayanan Operasional terdiri atas:
a.
Seksi Pelayanan Sistem Informasi;
Seksi Pelayanan
Sistem Informasi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan penelaahan dan
penyusunan, serta pemantauan, pengendalian dan evaluasi teknik operasional,
serta pelaksanaan administrasi setiap masukan dan permasalahan yang berhubungan
dengan sistem informasi serta pemecahan masalahnya dalam skala tertentu, serta
administrasi program aplikasi.
b. Seksi Pelayanan
Aplikasi dan Registrasi;
Seksi Pelayanan
Aplikasi dan Registrasi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan penelaahan
dan penyusunan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi teknik operasional
aplikasi perpajakan dan registrasi Wajib Pajak, serta pelaksanaan administrasi
setiap masukan dan permasalahan yang berhubungan dengan aplikasi perpajakan
serta pemecahan masalahnya dalam skala tertentu, serta administrasi program
aplikasi.
c. Seksi Pelayanan
Dukungan Teknis; dan
Seksi Pelayanan
Dukungan Teknis mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan penelaahan dan
penyusunan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi teknik operasional,
serta pelaksanaan administrasi setiap masukan dan permasalahan yang berhubungan
dengan penyelenggaraan dukungan teknis serta pemecahan masalahnya dalam skala
tertentu, serta administrasi program aplikasi.
d. Seksi Pelayanan
Jaringan Komunikasi Data.
Seksi Pelayanan
Jaringan komunikasi Data mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan
penelaahan dan penyusunan, serta pemantauan, pengendalian dan evaluasi teknik
operasional, serta pelaksanaan administrasi setiap masukan dan permasalahan
yang berhubungan dengan jaringan komunikasi data serta pemecahan masalahnya
dalam skala tertentu, serta administrasi program aplikasi.
2. Subdirektorat Pendukung Operasional;
Subdirektorat
Pendukung Operasional mempunyai tugas melaksanakan penyiapan, penelaahan, dan
penyusunan kebijakan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan
kebijakan teknis operasional, serta pelaksanaan bimbingan sistem, pemutakhiran
data tampilan, pertukaran data elektronik, pengelolaan intranet dan internet.
Dalam
melaksanakan tugas sebagaimana tersebut, Subdirektorat Pendukung Operasional
menyelenggarakan fungsi:
penyiapan penelaahan dan penyusunan kebijakan teknis
operasional bimbingan sistem, pemutakhiran data tampilan, pertukaran data
elektronik, serta pengelolaan intranet dan internet;
pemantauan,
pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan kebijakan teknis operasional bimbingan
sistem, pemutakhiran data tampilan, pertukaran data elektronik, serta
pengelolaan intranet dan internet;
pelaksanaan bimbingan sistem, pemutakhiran data tampilan,
pertukaran data elektronik, serta pengelolaan intranet dan internet; dan
administrasi pekerjaan, kegiatan, dan pelaksanaan tugas.
Subdirektorat
Pendukung Operasional terdiri atas:
a.
Seksi Bimbingan Sistem;
Seksi Bimbingan
Sistem mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penelaahan dan penyusunan,
serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi kebijakan teknik operasional,
serta pelaksanaan bimbingan sistem yang ada di Direktorat Jenderal Pajak, serta
administrasi pekerjaan, kegiatan dan pelaksanaan tugas
b. Seksi Pemutakhiran
Data Tampilan;
Seksi
Pemutakhiran Data Tampilan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan
penelaahan dan penyusunan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi
kebijakan teknik operasional, serta pelaksanaan pengawasan dan pengelolaan
operasional aplikasi yang berhubungan dengan pemutakhiran data, serta
administrasi program aplikasi.
c.
Seksi Pertukaran Data Elektronik; dan
Seksi Pertukaran
Data Elektronik mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan penelaahan dan
penyusunan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi kebijakan teknik
operasional, serta pelaksanaan pengawasan dan pengelolaan operasional proses
pertukaran data elektronik untuk menjamin kualitas data, serta administrasi pekerjaan,
kegiatan dan pelaksanaan tugas.
d.
Seksi Pengelolaan Intranet dan Internet.
Seksi
Pengelolaan Intranet dan Internet mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan
penelaahan dan penyusunan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi
kebijakan teknik operasional, serta pelaksanaan pengawasan dan pengelolaan
operasional intranet dan internet, serta administrasi pekerjaan, kegiatan dan
pelaksanaan tugas.
3. Subdirektorat
Pemantauan Sistem dan Infrastruktur;
Subdirektorat
Pemantauan Sistem dan Infrastruktur mempunyai tugas melaksanakan penyiapan
penelaahan, dan penyusunan kebijakan, serta pemantauan, pengendalian, dan
evaluasi pelaksanaan kebijakan teknis operasional, serta pelaksanaan pemantauan
terhadap konfigurasi dan kapasitas infrastruktur teknologi informasi, keamanan
sistem dan jaringan komunikasi data, basis data, pengolahan data dan dokumen,
pemeliharaan Master File Wajib Pajak, serta administrasi program aplikasi.
Dalam
melaksanakan tugas tersebut, Subdirektorat Pemantauan Sistem dan Infrastruktur
menyelenggarakan fungsi:
penyiapan penelaahan
dan penyusunan kebijakan teknis operasional pemantauan konfigurasi dan
kapasitas infrastruktur teknologi informasi, keamanan sistem dan jaringan
komunikasi data, basis data, pemeliharaan Master File Wajib Pajak, pengolahan
data dan dokumen;
pemantauan,
pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan kebijakan teknis operasional pemantauan
konfigurasi dan kapasitas infrastruktur teknologi informasi, keamanan sistem
dan jaringan komunikasi data, basis data, pemeliharaan Master File Wajib Pajak,
pengolahan data dan dokumen;
pemantauan konfigurasi dan kapasitas infrastruktur,
keamanan sistem dan jaringan komunikasi data, basis data, serta pengolahan data
dan dokumen;
pemeliharaan Master File Wajib Pajak; dan
administrasi program aplikasi.
Subdirektorat
Pemantauan Sistem dan Infrastruktur terdiri atas:
a.
Seksi Pemantauan Konfigurasi dan Kapasitas;
Seksi Pemantauan
Konfigurasi dan Kapasitas mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penelaahan
dan penyusunan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi kebijakan teknik
operasional, serta pelaksanaan pemantauan dan pemeliharaan konfigurasi dan
kapasitas infrastruktur teknologi informasi, serta administrasi program
aplikasi
b.
Seksi Pemantauan Keamanan Sistem dan Jaringan Komunikasi Data;
Seksi Pemantauan
Keamanan Sistem dan Jaringan Komunikasi Data mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan penelaahan dan penyusunan, serta pemantauan, pengendalian, dan
evaluasi kebijakan teknik operasional, serta pelaksanaan pemantauan dan
pemeliharaan keamanan sistem dan jaringan komunikasi data, serta administrasi
program aplikasi
c.
Seksi Pemantauan Basis Data; dan
Seksi Pemantauan
Basis Data mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penelaahan dan penyusunan,
serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi teknik operasional, serta
pelaksanaan pemantauan distribusi dan konsolidasi data serta operasional basis
data nasional, serta administrasi program aplikasi.
d.
Seksi Pemantauan Pengolahan Data dan Dokumen.
Seksi Pemantauan
Pengolahan Data dan Dokumen mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
penelaahan dan penyusunan, serta pemantauan, pengendalian, dan evaluasi
kebijakan teknik operasional, serta pelaksanaan pembinaan di bidang
transformasi data dan pengelolaan dokumen dalam hal perekaman, kualitas dan
transfer data, penyimpanan, peminjaman dan penghapusan dokumen dan media
elektronik, pemeliharaan Master File Wajib Pajak, serta administrasi program
aplikasi.
4. Subbagian Tata Usaha; dan
Subbagian
Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, tata usaha, kearsipan,
dan rumah tangga Direktorat. Subbagian Tata Usaha dalam melaksanakan tugasnya
secara administratif dibina oleh
Kepala
Subdirektorat Pelayanan Operasional.
5. Kelompok
Jabatan Fungsional.
D. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Transformasi
Teknologi Komunikasi dan Informasi
Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi
merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
transformasi teknologi komunikasi dan informasi. Dalam melaksanakan tugas
tersebut, Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi
menyelenggarakan fungsi :
penyiapan perumusan
kebijakan di bidang transformasi teknologi komunikasi dan informasi;
penyiapan
pelaksanaan kebijakan di bidang transformasi teknologi komunikasi dan
informasi;
penyiapan
penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang transformasi
teknologi komunikasi dan informasi;
penyiapan pemberian
bimbingan teknis dan evaluasi di bidang transformasi teknologi komunikasi dan
informasi; dan
pelaksanaan urusan
tata usaha direktorat.
Direktorat
Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi terdiri atas:
1. Subdirektorat
Analisis dan Evaluasi Sistem Informasi;
Subdirektorat
Analisis dan Evaluasi Sistem Informasi mempunyai tugas melaksanakan perancangan
sistem dan prosedur perpajakan, analisis konfigurasi dan kapasitas
infrastruktur, analisis keamanan sistem dan jaringan komunikasi data, serta
evaluasi sistem informasi.
Dalam
melaksanakan tugas tersebut, Subdirektorat Analisis dan Evaluasi Sistem
Informasi menyelenggarakan fungsi :
a. perancangan
sistem dan prosedur perpajakan;
b. analisis
konfigurasi dan kapasitas infrastruktur teknologi informasi;
c.
analisis keamanan sistem dan jaringan komunikasi data; dan
d.
evaluasi sistem informasi.
2. Subdirektorat Pengembangan Perangkat Keras;
Subdirektorat
Pengembangan Perangkat Keras mempunyai tugas melaksanakan analisis,
perencanaan, perancangan, instalasi konfigurasi basis data, jaringan komunikasi
data dan pengelolaan basis data dan data spasial.
Dalam
melaksanakan tugas sebagaimana tersebut, Subdirektorat Pengembangan Perangkat
Keras menyelenggarakan fungsi:
a. penelitian,
perencanaan, perancangan, instalasi, dan evaluasi konfigurasi basis data;
b. penelitian,
perencanaan, perancangan, instalasi, dan evaluasi jaringan komunikasi data;
c. pengelolaan
basis data; dan
d.
pengelolaan data spasial.
3. Subdirektorat
Pengembangan Aplikasi;
Subdirektorat
Pengembangan Aplikasi mempunyai tugas melaksanakan pengembangan, instalasi
aplikasi perpajakan, aplikasi informasi geografis, dan aplikasi informasi dan
pelaporan serta penyusunan prosedur operasional.
Dalam
melaksanakan tugas tersebut, Subdirektorat Pengembangan Aplikasi
menyelenggarakan fungsi:
a. penelitian, perencanaan, perancangan,
instalasi, dan evaluasi aplikasi perpajakan, aplikasi informasi geografis, dan
aplikasi informasi dan pelaporan; dan
b. penyusunan prosedur
operasional sistem informasi dan aplikasi.
4. Subbagian Tata Usaha;
Subbagian
Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, tata usaha, kearsipan,
dan rumah tangga Direktorat. Subbagian Tata Usaha dalam melaksanakan tugasnya
secara administratif dibina oleh Kepala Subdirektorat Analisis dan Evaluasi
Sistem Informasi
5. Kelompok
Jabatan Fungsional.
2. Studi Kasus: Pelanggaran
Terhadap Etika Profesi di Bidang Sistem Informasi
Dalam era kini, informasi dipandang sebagai aset atau sumber yang setara
dengan sumber-sumber lain dan juga mempunyai kekhususan persoalan dan
pengelolaannya, sehingga diperlukan suatu manajemen khusus yaitu sistem
manajemen informasi dengan pengelolanya yang khusus yaitu manajer informasi
atau Chief Information Officer (CIO). Sebagai manajer jelas harus mengetahui
etika manajemen. Aspek keuangan merupakan suatu aspek yang yang sangat
sensitif, demikian juga dengan aspek informasi. Dengan demikian hak dan tanggung
jawab manajer mengisyaratkan bahwa syarat manajer harus “beretika (bermoral)
tinggi dan kuat”.
Faktor penyebab pelanggaran kode etik profesi IT adalah makin merebaknya
penggunaan internet. Jaringan luas computer tanpa disadari para pemiliknya di
sewakan kepada spammer (penyebar email komersial) froudster (pencipta setus
tipuan), dan penyabot digital
Terminal2 jaringan telah terinfeksi virus computer, yang mengubah computer menjadi zombie contohnya di bandung banyak warnet yang menjadi sarang kejahatan computer. Factor lain yang menjadi pemicu adalah makin merebaknya intelektual yang tidak beretika.
Terminal2 jaringan telah terinfeksi virus computer, yang mengubah computer menjadi zombie contohnya di bandung banyak warnet yang menjadi sarang kejahatan computer. Factor lain yang menjadi pemicu adalah makin merebaknya intelektual yang tidak beretika.
Factor
penyebab pelanggaran kode etik profesi IT
1. Tidak
berjalannya control dan pengawasan diri masyarakat
2. Organisasi profesi tidak di
lengkapi denga sarana dan mekanisme bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan
3. Rendahnya pengetahuan masyarakat
mengenai substansi kode etik profesi, karena buruknya pelayanan sosialisasi
dari pihak prepesi sendiri
4. Belum terbentuknya kultur dan
kesadaran dari para pengemban profesi IT untuk menjaga martabat luhur
profesinya
5. Tidak adanya kesadaran etis da
moralitas diantara para pengemban profesi TI untuk menjaga martabat luhur
profesinya.
Solusi yaitu adanya kesadaran hukum.kesadaran hokum menurut Soerjono
Sokanto (1988) menyebutkan bahwa ada lima unsur penegakan hukum artinya untuk
mengimplementasikan penegak hukum di Indonesia sangat dipengaruhi 5 faktor :
1.
undang-undang
2. mentalitas aparat penegak hukum
3. perilaku masyarakat
4. sarana
5. kultur.
2. mentalitas aparat penegak hukum
3. perilaku masyarakat
4. sarana
5. kultur.
Malinda Palsukan Tanda Tangan Nasabah
JAKARTA, KOMPAS.com – Terdakwa kasus pembobolan dana Citibank, Malinda Dee
binti Siswowiratmo (49), diketahui memindahkan dana beberapa nasabahnya dengan
cara memalsukan tanda tangan mereka di formulir transfer.
Hal ini terungkap dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum di
sidang perdananya, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (8/11/2011).
“Sebagian tanda tangan yang ada di blangko formulir transfer tersebut adalah
tandatangan nasabah,” ujar Jaksa Penuntut Umum, Tatang sutar
Malinda antara lain memalsukan tanda tangan Rohli bin Pateni. Pemalsuan
tanda tangan dilakukan sebanyak enam kali dalam formulir transfer Citibank
bernomor AM 93712 dengan nilai transaksi transfer sebesar 150.000 dollar AS
pada 31 Agustus 2010. Pemalsuan juga dilakukan pada formulir bernomor AN 106244
yang dikirim ke PT Eksklusif Jaya Perkasa senilai Rp 99 juta. Dalam transaksi
ini, Malinda menulis kolom pesan, “Pembayaran Bapak Rohli untuk interior”.
Pemalsuan lainnya pada formulir bernomor AN 86515 pada 23 Desember 2010
dengan nama penerima PT Abadi Agung Utama. “Penerima Bank Artha Graha sebesar
Rp 50 juta dan kolom pesan ditulis DP untuk pembelian unit 3 lantai 33 combine
unit,” baca jaksa.
Masih dengan nama dan tanda tangan palsu Rohli, Malinda mengirimkan uang
senilai Rp 250 juta dengan formulir AN 86514 ke PT Samudera Asia Nasional pada
27 Desember 2010 dan AN 61489 dengan nilai uang yang sama pada 26 Januari 2011.
Demikian pula dengan pemalsuan pada formulir AN 134280 dalam pengiriman uang
kepada seseorang bernama Rocky Deany C Umbas sebanyak Rp 50 juta pada 28
Januari 2011 untuk membayar pemasangan CCTV milik Rohli.
Adapun tanda tangan palsu atas nama korban N Susetyo Sutadji dilakukan lima
kali, yakni pada formulir Citibank bernomor No AJ 79016, AM 123339, AM 123330,
AM 123340, dan AN 110601. Secara berurutan, Malinda mengirimkan dana sebesar Rp
2 miliar kepada PT Sarwahita Global Management, Rp 361 juta ke PT Yafriro
International, Rp 700 juta ke seseorang bernama Leonard Tambunan. Dua transaksi
lainnya senilai Rp 500 juta dan 150 juta dikirim ke seseorang bernamVigor AW
Yoshuara.
“Hal ini sesuai dengan keterangan saksi Rohli bin Pateni dan N Susetyo
Sutadji serta saksi Surjati T Budiman serta sesuai dengan Berita Acara
Pemeriksaan laboratoris Kriminalistik Bareskrim Polri,” jelas Jaksa. Pengiriman
dana dan pemalsuan tanda tangan ini sama sekali tak disadari oleh kedua nasabah
tersebut.
BAB IV
ALAT UKUR
KNOWLEDGE MANAGEMENT
Dalam
gambar diatas menggambarkan Secound Time Right.. Maksud dari Gambar tersebut
menjelaskan bahwa :
Dengan
mengsharing knowledge, Kita bertujuan semata-mata untuk memuaskan pelanggan,
dimana dengan mensharing knowledge tersebut akan meningkatkan Quality dan Speed
Performance.. Dimana nanti nya secara otomats akan memberikan kepuasan bagi
pelanggan (customer satifaction)
A.
Balance Scorecard
Kita sering mendengar mengenai Balance Scorecard,
Balance Scorecard itu sendiri merupakan suatu wadah yang berfungsi sebagai alat
pengukur kinerja dalam suatu perusahaan, dimana tolak ukur tersebut ditentukan
oleh kita sendiri (si pemilik perusahaan)..
B.
CobiT
Selain Balance Scorecard, ada yang dinamakan COBIT ... Cobit tersebut memiliki kesamaan dengan Balance scorecard, dimana memiliki peran sebagai alat ukur bagi kinerja perusahaan.. namun Cobit memiliki perbedaan dibandingkan balance scorecard..
Cobit memiliki ukuran yang telah ada (telah dirancang sesuai Cobit itu sendiri) dan memiliki standart nya masing2, dan tentunya tidak dapat diubah layak nya Scorecard..
Selain Balance Scorecard, ada yang dinamakan COBIT ... Cobit tersebut memiliki kesamaan dengan Balance scorecard, dimana memiliki peran sebagai alat ukur bagi kinerja perusahaan.. namun Cobit memiliki perbedaan dibandingkan balance scorecard..
Cobit memiliki ukuran yang telah ada (telah dirancang sesuai Cobit itu sendiri) dan memiliki standart nya masing2, dan tentunya tidak dapat diubah layak nya Scorecard..
Dalam pembuatan Balance Scorecard, ada beberapa hal
yang harus diperhatikan. diantaranya, :
1. Harus mengetahui kearah mana perusahaan itu berkembang?
1. Harus mengetahui kearah mana perusahaan itu berkembang?
2. Seperti apakah tugas-tugas dalam perusahaan
tersebut ?
3. Goal Company yang dimiliki perusahaan seperti apa
?
4. Perusahaan tersebut memiliki bisnis seperti apa
dan kemana arah perusahaan tsb?
5. Dan siapa target dan strategi dari perusahaan
tersebut ?
dengan mengikuti beberapa hal tersebut sehingga kita
dapat mempermudah mengetahui tujuan akhir dari perusahaan tersebut
Didalam Balance ScoreCard itu sendiri terdiri dari 4 Perspektif :
1.
Perspektif Finasial : meliputi Pangsa
pasar, Target pasar, Provit dari perusahaan.
Perspektif customer orientation : Dalam tahap ini kita melihat orientasi terhadap pelanggan untuk meningkatkan value dari perusahaan tersebut, dimana kembali lagi dengan semata-mata untuk menjamin kepuasan customer.
Contoh : Melakukan bisnis Cuci Mobil, apa bila pelanggan telah melakukan pencucian mobil di tempat tersebut sebanyak 10x, maka akan mendapatkan gratis 1x pencucian gratis..
Perspektif customer orientation : Dalam tahap ini kita melihat orientasi terhadap pelanggan untuk meningkatkan value dari perusahaan tersebut, dimana kembali lagi dengan semata-mata untuk menjamin kepuasan customer.
Contoh : Melakukan bisnis Cuci Mobil, apa bila pelanggan telah melakukan pencucian mobil di tempat tersebut sebanyak 10x, maka akan mendapatkan gratis 1x pencucian gratis..
2.
Perspektif Internal Bisnis Proses :
Tahap ini lebih melihat pada internalisasi perusahaan, dimana selaku perusahaan
harus memastikan proses bisnis perusahaan tersebut berjalan dengan baik,
sehingga customer pun merasa percaya terdapat nya.
Contoh :
Dalam Pembuatan suatu product, menggunakan sistem Six Sigma. Six Sigma tersebut memilki pengertian, bahwa didalam pembuatan suatu product, memiliki kesalahan yang sedikit , seperti dalam pembuatan 1juta mobile phone, dalam 1 juta product memiliki kecacatan product 6:1.000.000,-
Contoh :
Dalam Pembuatan suatu product, menggunakan sistem Six Sigma. Six Sigma tersebut memilki pengertian, bahwa didalam pembuatan suatu product, memiliki kesalahan yang sedikit , seperti dalam pembuatan 1juta mobile phone, dalam 1 juta product memiliki kecacatan product 6:1.000.000,-
3.
Learning and Growth : Setiap orang di
dorong untuk belajar agar tercipta nya suatu inovasi, dimana hal tersebut dapat
juga di dukung dengan pemberian suatu reward khusus atas kinerja yang telah
dihasilkan karyawan tersebut dalam menghasilkan suatu inovasi..
Balance Scorecard memiliki Manfaat, diantaranya
Balance Scorecard memiliki Manfaat, diantaranya
a) Membantu
evaluasi karyawan dari level Low sampai level Top
b) Bisnis
Proses Reengenering, maksdnya bahwa target dapat diganti sesuai keinginan.
c) untuk
membuat tujuan strategic yang dulu masih kabur, menjadi lebih konkret, sehingga
mempercepat proses pembelajaran organisasi
d) Untuk
mengukur kinerja perusahaan apakah mencapai target yang telah di tentukan
BAB
V
KNOWLEDGE
AUDIT (AUDIT PENGETAHUAN)
Knowledge Audit merupakan aktifitas yang sangat penting sebelum penerapan
Knowledge Management atau setelahnya. Knowledge Audit menghasilkan informasi
yang sangat penting bagi Knowledge Management, seperti macam-macam pengetahuan
yang ada, sumber pengetahuan, siapa yang menggunakan pengetahuan, bagaimana
bentuk berbagi pengetahuan, tujuan bisnis yang dicapai dari sumber pengetahuan
dan infrastruktur yang dapat mendukung Knowledge Management.
1.
Pengertian
Istilah “Knowledge audit” banyak disalahartikan.
Knowledge audit lebih pada evaluasi kualitatif untuk mengetahui kondisi
kesehatan pengetahuan sebuah organisasi. Audit ini akan melihat:
·
Apakah kebutuhan pengetahuan organisasi
·
Aset atau sumber kebutuhan apa yang dimiliki dan itu
berada dimana?
·
Kesenjangan apa yang berada dalam pengetahuan nya
·
Bagaimana cara pengetahuan mengalir di dalam
organisasi
·
Kemacetan apa pada arus itu seperti perluasan
orang-orangnya, proses dan teknologi yang sekarang ini mendukung atau
menghambat arus pengetahuan yang efektif.
Knowledge audit menyediakan sebuah evaluasi
berdasarkan bukti dimana organisasi membutuhkan untuk focus pada usaha-usaha
mengelola pengetahuannya. Hal itu bisa menunjukkan kebutuhan pengelolaan
organisasi dari organisasi, kekuatannya, kelemahan, peluang, tantangan dan resikonya.
2.
Keuntungan
Keuntungan dari knowledge audit adalah :
1.
Membantu organisasi mengidentifikasi secara jelas
pengetahuan apa yang dibutuhkan untuk mendukung keseluruhan tujuan organisasi
dan aktivitas individu dan tim
2.
Memberi bukti nyata tingkat pengetahuan mana yang di
kelola secara efektif dan indikasi dimana dibutuhkan peningkatan
3.
Menyediakan laporan pengetahuan berdasarkan bukti yang
berada dalam organisasi, dan bagaimana pengetahuan bergerak didalamnya dan
digunakan oleh organisasi
4.
Menyediakan peta keberadaan pengetahuan di organisasi
dan dimana berada, menunjukkan kesenjangan dan duplikasi
5.
Menunjukkan tempat penyimpanan pengetahuan yang saat
ini tidak dimanfaatkan dengan baik dan untuk menawarkan potensi itu.
6.
Menyediakan peta pengetahuan dan arus komunikasi dan
jaringan, menunjukkan praktek yang baik dan halangan dan hambatannya
7.
Menyediakan tempat penyimpanan asset pengetahuan,
memberikannya menjadi lebih kelihatan dan lebih bisa diukur dan
dipertanggungjawabkan dan memberikan pemahaman yang jelas dari kontribusi
pengetahuan untuk pelaksanaan organisasi
8.
Menyediakan informasi vital untuk pengembangan program
pengelolaan pengetahuan yang efektif dan inisiatif yang berkaitan langsung
dengan kebutuhan pengetahuan khusus organisasi dan situasi saat ini
Beberapa contoh situasi dimana knowledge audit bisa menguntungkan:
1.
Anda memulai membuat strategi pengelolaan pengetahuan
dan membutuhkan kepastian “dimana anda sekarang”
2.
Orang-orang mendapati kesulitan dalam menemukan
informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan kunci
3.
Sumber yang berguna dari informasi dan pengetahuan
yang sering bertemu dengan tiba-tiba
4.
Terdapat duplikasi informasi dan pengetahuan
berseberangan dengan departemen atau tim yang berbeda dan oleh karena itu
duplikasi biaya
5.
Pertanyaan yang meningkat tentang nilai dari sistem
pengelolaan pengetahuan, inisiatif atau investasi
6.
Ketika penemuan penelitian dan pengembangan tidak
cukup membuat jalan kepada praktek cepat
3.
Menuju ke Knowledge Audit
Ada berbagai pendekatan untuk mengadakan knowledge
audit, dengan berbagai tingkat ulasan dan ketelitian. Sebagian besar knowledge
audit akan melibatkan :
- Identifikasi kebutuhan pengetahuan
Pendekatan umum untuk mengumpulkan informasi ini termasuk survey berdasar
kuesioner, interview dan fasilitas kelompok diskusi atau kombinasi diantaranya.
Dalam menanyakan orang tentang kebutuhan pengetahuan, ini penting untuk
menyediakan titik focus, pengetahuan dapat dilihat sebagai konsep dan oleh
karena itu sulit untuk diartikulasikan.
- Menyiapkan inventarisasi pengetahuan
Inventaris pengetahuan adalah semacam “stock-take” untuk mengidentifikasi
dan mengetahui asset pengetahuan atau sumber daya melalui organisasi. Itu
termasuk menghitung dan mengkategorisasi pengetahuan eksplisit dan tacit
organisasi.
Yang termasuk pengetahuan eksplisit :
- Apakah pengetahuan yang dimiliki
- Dimana pengetahuan itu berada
- Organisasi dan akses
- Tujuan, relevansi dan kualitas
- Penggunaan
Yang termasuk pengetahuan “tacit”:
- Siapa yang memiliki – jumlah dan kategori orang
- Dimana mereka – lokasi dalam departemen, tim dan gedung
- Apa yang mereka lakukan – tingkat pekerjaan dan tipenya
- Apa yang mereka ketahui – kualifikasi akademis dan professional, pengetahuan inti dan pengalaman
- Apa yang mereka pelajari – magang, pembelajaran dan pengembangan
- Menganalisis alur pengetahuan
Analisis alur pengetahuan melihat pengetahuan eksplisit dan tacit, dan pada
orang, proses dan sistem:
- fokus pada : sikap, kebiasaan dan tingkah laku, ketrampilan, berbagi dan penggunaan pengetahuan
- untuk proses, akan melihat bagaimana orang-orang dengan aktifitas kerja dan bagaimana mencari pengetahuan, berbagi dan menggunakan pengetahuan adalah bagian dari kegiatan tersebut
- disisi sistem, beberapa evaluasi membutuhkan kemampuan kunci yang akan digunakan dalam beberapa kegiatan yang direkomendasikan atau solusi. Ini termasuk infrastruktur teknik: sistem IT, content management, dll.
- Analisis alur pengetahuan akan memberikan identifikasi kesenjangan pada pengetahuan yang dimiliki organisasi dan wilayah duplikasi.
- Menciptakan peta pengetahuan
Peta pengetahuan adalah representasi visual dari pengetahuan organisasi.
Ada 2 pendekatan umum untuk pemetaan pengetahuan
- peta sumber daya dan asset pengetahuan, menunjukkan keberadaan pengetahuan dalam organisasi dan dimana itu dapat ditemukan
- alur pengetahuan, menunjukkan bagaimana pengetahuan bergerak dari mana dan kemana itu dibutuhkan
4.
Poin lain yang harus diperhatikan
a)
Definisikan
tujuan.
b)
Tentukan
kondisi ideal.
c)
Pilih metoda
audit.
d)
Laksanakan
audit pengetahuan dan dokumentasikan aset pengetahuan
e)
Ikuti jejak
pertumbuhan pengetahuan
f)
Tentukan
posisi strategis perusahaan dalam kerangka-kerja teknologi
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Munculnya tugas dan wewenang CIO di bidang strategis dan
semakin meningkatnya peran tersebut. CIO harus mengenali pengaruh TIK terhadap
organisasi, menentukan arah / strategi TIK yang menjamin adanya keselarasan
antara strategi bisnis dan strategi TIK. Adapun peran CIO adalah sebagai
berikut :
1. Antisipasi perubahan teknologi,
market dan regulasi.
2. Menentukan dan menjamin
tatakelola TIK yang benar dan baik dalam organisasi.
3. Merumuskan visi dan misi;
4. CIO menjadi leader dalam
pengukuran dan pengembangan new computing.
5.
Mendistribusikan teknik baru hasil pengembangan, alat dan pendekatan yang
dilakukan
Di dalam buku “Information Systems Management in Practice”,
Ralph Sprague beserta rekannya Barbara McNurlin menjabarkan bahwa setidaknya
ada lima fungsi utama CIO di sebuah perusahaan (Sprague et.al., 1993). Yaitu :
1. Memahami Bisnis
2. Membangun Citra Divisi
3. Meningkatkan Mutu Penggunaan
Teknologi
4. Mencanangkan Visi Teknologi
Informasi
5. Pengembangan
Sistem Informasi
Prioritas dan kebutuhan Teknologi Informasi (TI) perusahaan
telah berevolusi, Chief Information Officer (CIO) harus bisa mengatasi
kebutuhan bisnis yang terus berubah. CIO harus mampu mengelola
tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan baru.Di samping tuntutan bisnis, dunia
kini bergerak ke TI yang "hijau" dan perusahaan melihat kebutuhan
mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon untuk memangkas biaya operasional,
memunculkan tantangan :
1. Kendalikan
emisi karbon dari pembangkit listrik (Green Computing
2. Melakukan
lebih banyak hal untuk menangani pertumbuhan data
3. Memastikan
menyimpan data secara efisien
4. Memastikan
ketersediaan data dan aplikasi
5. Bisnis
Berbasis Efisiensi
6. Membangun
Infrastruktur Informasi
7. Manajemen Informasi
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.01/2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja kementerian Keuangan, Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak mempunyai tugas merumuskan serta
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang teknologi informasi
perpajakan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Direktorat Teknologi Informasi
Perpajakan menyelenggarakan fungsi:
penyiapan perumusan
kebijakan di bidang teknologi informasi perpajakan;
penyiapan pelaksanaan
kebijakan di bidang teknologi informasi perpajakan;
penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria
di bidang teknologi informasi perpajakan;
penyiapan pemberian
bimbingan teknis dan evaluasi di bidang teknologi informasi perpajakan; dan
pelaksanaan tata usaha direktorat.
Sedangnkan Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan
Informasi merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di
bidang transformasi teknologi komunikasi dan informasi. Dalam melaksanakan
tugas tersebut, Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi
menyelenggarakan fungsi :
penyiapan perumusan kebijakan di bidang
transformasi teknologi komunikasi dan informasi;
penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang
transformasi teknologi komunikasi dan informasi;
penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur
dan kriteria di bidang transformasi teknologi komunikasi dan informasi;
penyiapan pemberian bimbingan teknis dan
evaluasi di bidang transformasi teknologi komunikasi dan informasi; dan
pelaksanaan urusan
tata usaha direktorat.
B. Saran
1.
Dalam organisasi modern, dalam sebuah organisasi hanya ada
sati Chief Information Officer (CIO) sebagai pimpinan tertinggi pengelolaan IT
termasuk pengembangan IT. Untuk itu, kedepannya seharusnya Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan yang mengelola IT dan Direktorat Transformasi Teknologi
Komunikasi dan Informasi yang mengelola pengembangan IT disatukan menjadi satu
Direktorat, agar terjadi keseuaian arah pengembangan IT dengan pengelolaan IT
itu sendiri
2. kasus yang
saya ambil yaitu tentang pemalsuan tanda tangan nasabah yang dilakukan
oleh melinda dimana Dalam kasus ini malinda melakukan banyak pemalsuan tanda
tangan yang tidak diketahui oleh nasabah tersebut. Dalam kasus ini ada salah
satu prinsip-prinsip yang telah dilanggar yaitu prinsip Tanggung jawab
profesi, karena ia tidak melakukan pertimbangan professional dalam semua
kegiatan yang dia lakukan,disini melinda juga melanggar prinsip
Integritas, karena tidak memelihara dan meningkatkan kepercayaan nasabah.
DAFTAR
PUSTAKA
Sprague, and
Barbara C McNurlin. Information Systems Management in Practice,
Englewood cliffs, New Jersey: Prentice-Hall Inc., 1993
Curry, J. R., 2002. The
Organizational Challenge: IT and Revolution in Higher Education, Educause
review, April 40-48.
Esa, M., 2008. The Role of The
New CIO Meets Competitive Advantage.
Henderi., 2010. IT governance
: framework and prototype or higher education, Journal CCIT Vol.3 No. 2
Januari 2010.
Indrajit, Richardus Eko., 1999. Tugas
Utama Chief Information Officer.
Lutchen, M. D., 2004. Managing
IT as a Business, John Wiley & Sons, Inc.
____________________.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 184/PMK.01/2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Keuangan
http://dwiky-a-p-fisip09 13 November 2011 - dalam Kuliah knowledge
management--------------------------------------------------------------------------------------------------09/04/2013 (13:32)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar