TEORI KOMUNIKASI DAN PARADIGMA PENELITIAN,
Telah lama para
ahli berupaya memberikan penjelasan mengenai pengertian 'komunikasi' melalui
berbagai teori yang mereka kemukakan. Namun semakin banyak upaya yang dilakukan
untuk menjelaskan komunikasi, melalui berbagai penelitian, justru pengertian
komunikasi semakin kabur. Namun disinilah letak daya tarik ilmu komunikasi
karena selalu membuka peluang untuk diskusi dan argumentasi. Hal ini tentu saja
menuntut praktisi komunikasi untuk terus menerus memperbaharui pengetahuannya
di bidang ini.
Berbagai
perbedaan pandangan mengenai komunikasi disebabkan para ahli komunikasi
memiliki ketertarikan yang berbeda-beda terhadap berbagai bidang atau aspek
yang tercakup dalam ilmu komunikasi. Para ahli
komunikasi juga memiliki pandangan yang tidak sama mengenai hal apa yang
menjadi fokus perhatian atau aspek apa dalam komunikasi yang menurut mereka
paling penting dalam ilmu komunikasi.
Tidak adanya
teori tunggal dalam ilmu komunikasi mendorong kita untuk memiliki suatu metamodel
teori komunikasi yang bersifat menyeluruh (komprehensif) yang dapat membantu
kita menjelaskan berbagai topik dan asumsi dan membantu kita dalam melakukan
pendekatan terhadap berbagai teori yang ada. Metamodel teori komunikasi
menyediakan suatu sistem yang kuat bagi kita untuk mengorganisir berbagai teori
komunikasi.
Disini, kita
menggunakan pandangan Robert T. Craig dalam menjelaskan berbagai teori
komunikasi yang jumlahnya banyak itu. Robert Craig membagi dunia teori
komunikasi ke dalam tujuh kelompok pemikiran atau tujuh tradisi pemikiran
yaitu:
1.
Sosiopsikologi (sociopsychological)
2. Sibernetika
(cybernetic)
3. Retorika
(rhetorical)
4. Semiotika
(semiotic)
5. Sosiokultural
(sociocultural)
6. Kritis
(critical)
7. Fenomenologi
(phenomenology)
1. SOSIOPSIKOLOGI
Pemikiran yang
berada dibawah naungan sosiopsikologi memandang individu sebagai makhluk
sosial. Teori-teori yang berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan
perhatiannya antara lain pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan
sifat individu atau bagaimana individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi
digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan
interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
2. SIBERNETIKA
Sibernetika
memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat
di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Komunikasi dipahami
sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau variabel-variabel yang
saling mempengaruhi satu sama lain. Sibernetika digunakan dalam topik-topik
tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok,
organisasi, media, budaya dan masyarakat.
3. RETORIKA
Retorika
didefinisikan sebagai seni membangun argumentasi dan seni berbicara. Dalam
perkembangannya retorika juga mencakup proses untuk ‘menyesuaikan ide dengan
orang dan menyesuaikan orang dengan ide melalui berbagai macam pesan’
4. SEMIOTIKA
Semiotika
memandang komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda yaitu
bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, dan sebagainya yang berada diluar
diri individu. Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan, media,
budaya dan masyarakat.
5. SOSIOKULTURAL
Cara pandang
sosiokultural menekankan gagasan bahwa realitas dibangun melalui suatu proses
interaksi yang terjadi dalam kelompok, masyarakat dan budaya. Sosiokultural
lebih tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana masyarakat secara
bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi dan budaya
mereka. Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang diri individu,
percakapan, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
6. KRITIS
Pertanyaan-pertanyaan
mengenai kekuasaan (power) dan keistimewaan (privilege) yang diterima kelompok
tertentu di masyarakat menjadi topik yang sangat penting dalam teori kritis.
Kritis memandang komunikasi sebagai bentuk pemikiran yang menentang
ketidakadilan. Tradisi kritis digunakan dalam topik-topik tentang diri
individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi,
media, budaya dan masyarakat.
7. FENOMENOLOGI
Fenomenologi
memandang komunikasi sebagai pengalaman melalui diri sendiri atau diri orang
lain melalui dialog. Tradisi memandang manusia secara aktif menginterpretasikan
pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui
pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi
memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman
subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau
pengalaman individu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar dari
pada hipotesa penelitian sekalipun. Fenomenologi digunakan dalam teori-teori
tentang pesan, hubungan interpersonal, budaya dan masyarakat.
Berbagai
perbedaan yang terkandung dalam masing-masing kelompok tradisi komunikasi
tersebut mempengaruhi pada cara melakukan riset atau penelitian komunikasi dan
mempengaruhi pilihan teori yang akan digunakan. Setiap teori menggunakan cara
atau metode riset yang berbeda yang secara umum dapat dibagi ke dalam dua
kelompok besar paradigma penelitian yaitu objektif dan interpretatif.
1. Objektif
Ilmu pengetahuan
seringkali diasosiasikan dengan sifatnya yang objektif (objectivity) yang
berarti bahwa pengetahuan selalu mencari standarisasi dan kategorisasi. Dalam
hal ini, para peneliti melihat dunia sedemikian rupa sehingga peneliti lain
yang menggunakan cara atau metode melihat yang sama akan menghasilkan
kesimpulan yang sama pula. Dengan kata lain, suatu replikasi atau penelitian
yang berulang-ulang akan selalu menghasilkan kesimpulan yang persis sama
sebagaimana penelitian dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences).
Penelitian yang menggunakan metode objektif sering disebut dengan penelitian
empiris (scientific scholarship) atau positivis. Perlu ditegaskan disini bahwa
apa yang dikenal selama ini sebagai tipe penelitian kuantitatif dan penelitian
kualitatif masuk dalam kategori penelitian objektif positivis ini.
2. Interpretatif
Mereka yang
menggunakan pendekatan ini sering disebut dengan humanistic scholarship. Jika
metode objektif (penelitian kuantitatif/kualitatif) bertujuan membuat
standarisasi observasi maka metode subjektif (penelitian interpretatif)
berupaya menciptakan interpretasi. Jika ilmu pengetahuan berupaya untuk
mengurangi perbedaan diantara para peneliti terhadap objek yang diteliti maka
para peneliti humanistik berupaya untuk memahami tanggapan subjektif individu.
Pendekatan interpretatif memandang metode penelitian ilmiah tidaklah cukup
untuk dapat menjelaskan 'misteri' pengalaman manusia sehingga diperlukan unsur
manusiawi yang kuat dalam penelitian. Kebanyakan mereka yang berada dalam
kelompok ini lebih tertarik pada kasus-kasus individu daripada kasus-kasus
umum.
Berdasarkan
klasifikasi teori komunikasi oleh Robert Craig tersebut, yang manakah dari
ketujuh tradisi teori komunikasi tersebut yang memiliki sifat objektif dan yang
manakah yang bersifat interpretatif. Dalam hal ini, kita dapat menggunakan
pandangan Griffin
melalui peta tradisi teori komunikasi sebagai berikut:
Sumber: EM
Griffin, dan Glen McClish (special consultant), A First Look At Communication
Theory, Fifth Edition, McGraw Hill, 2003. Hal 33.
Berdasarkan peta
tersebut di atas maka kelompok teori komunikasi yang paling objektif adalah
Sosisopsikologi sedangkan kelompok teori yang paling subjektif interpretatif
adalah fenomenologi, sosiokultural dan kritis. Pertanyaanya sekarang adalah:
SEBERAPA JAUH
PANDANGAN SUBJEKTIF DAPAT MASUK KE DALAM PENELITIAN INTERPRETATIF?
Dalam hal ini
terdapat dua pandangan subjektif yaitu:
1) Pandangan
subjektif dari objek penelitian yaitu manusia
a. Dalam
penelitian interpretatif, tidak ada batasan mengenai seberapa jauh pandangan
subjektif objek penelitian dapat masuk ke dalam penelitian karena tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana objek penelitian memandang dirinya
dan lingkungannya. Dalam penelitian kualititatif keterangan narasumber yang
salah atau keliru dapat diabaikan, namun penelitian interpretatif tidak
mempersoalkan benar atau salah.
b. Dalam penelitian
interpretatif, peneliti berupaya mengumpulkan data mengenai objek penelitian
(manusia) melalui pengamatan (observasi), wawancara dan sebagainya. Dalam hal
ini, peneliti haruslah bersikap seobjektif mungkin. Dengan kata lain,
sebagaimana penelitian objektif, peneliti harus membangun konsensus terlebih
dulu mengenai apa yang akan diteliti atau diamatinya (fokus penelitian).
2) Pandangan
subjektif peneliti.
Setelah data
diperoleh secara cermat dan objektif, maka data tersebut harus dijelaskan dan
diinterpretasikan, dan disinilah pandangan subjektif peneliti dapat masuk,
sebagaimana dikemukakan Littlejohn dan Foss: "Once behavioral phenomena
are accurately observed, they must be explained and interpreted -and here's
where the humanistic part come in".
Salah satu
bentuk laporan di bidang komunikasi yang sering dibuat dan seringkali diklaim
sebagai penelitian interpretatif adalah apa yang disebut dengan analisis wacana
(discourse analysis) dan analisis bingkai (framing analysis).
§ Analisa wacana
memfokuskan perhatian pada percakapan (lisan atau teks) untuk mengetahui
kondisi struktur sosial yang ada melalui percakapan misalnya antara ibu dan
anak, antara buruh pabrik dll) dengan mengidentifiaksi berbagai kategori, ide,
pandangan dan sebagainya berdasarkan transkrip percakapan yang diamatinya.
§ Analisa
framing memfokuskan perhatian pada bagaimana media massa mengelola ide dan isi berita dan
menunjukkan apa yang menjadi isu melalui pemilihan, penekanan, penyisihan dan
uraian berita.
APAKAH
ANALISIS WACANA (DISCOURSE ANALYSIS) DAN ANALISIS BINGKAI (FRAMING ANALYSIS)
DAPAT DIKATEGORIKAN SEBAGAI PENELITIAN INTERPRETATIF ATAUKAH HANYA MERUPAKAN
SUATU BENTUK ANALISIS SAJA?
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya, jika terdapat fokus perhatian mengenai apa yang akan
diteliti atau diamati, dan jika terdapat kegiatan pengumpulan data mengenai
objek penelitian (manusia) melalui pengamatan (observasi), wawancara dan
sebagainya dan peneliti bertindak seobjektif mungkin, maka dapat dikatakan
analisis wacana dan framing masuk dalam kategori penelitian (interpretatif),
namun jika tidak ada, maka keduanya tidak dapat masuk dalam kategori penelitian
interpretatif namun hanya masuk dalam kategori analisis saja.
Namun demikian,
kedua bentuk analisis ini sering kali menimbulkan kritik tajam bahwa semuanya
bisa dibuat atau semuanya bisa masuk ("anything goes") melalui kedua
entuk laporan analisis tersebut. Apa yang disebut sebagai analisis wacana dan
analisis bingkai seringkali dalam banyak kasus bahkan, sebenarnya, tidak layak
masuk dalam kategori analisis karena tidak memenuhi syarat sebagai analisis
karena tidak adanya aturan yang jelas dalam melakukan analisa. Setidaknya
inilah pandangan yang dikemukakan Charles Antaki, Michael Billig dan rekan dari
Department of Social Sciences, Loughborough
University, Inggris dalam
paper mereka berjudul Discourse Analysis Means Doing Analysis: A Critique Of
Six Analytic Shortcomings.[2]
Menurut Antaki,
Billig dan rekan setidaknya ada lima
kekurangan atau kelemahan yang sering terjadi dalam penulisan analisis wacana
1. Bukan analisa
jika meringkas transkrip (Under-Analysis Through Summary).
Menurut Antaki
dan Billig, analisis wacana (dan juga framing) harus menyediakan transkrip,
teks dan percakapan secara lengkap, sebagai sumber data yang akan diteliti.
Transkrip tidak boleh dirangkum atau diringkas. Namun seringkali transkrip
dirangkum atau diringkas dan kemudian berfungsi sebagai pengganti analisa.
Antaki dan Billig mengingatkan bahwa transkrip hanya berfungsi sebagai penyedia
data untuk dianalisa dan ringkasan transkrip bukanlah analisa atau pengganti
analisa.[4] Seorang analis harus menawarkan sesuatu (gagasan atau ide) dari
transkrip dan bukan sekedar penjelasan atau ringkasan transkrip.
2. Bukan analisa
jika berpihak (Under-Analysis Through Taking Sides).
Dalam banyak
laporan analisa wacana dan bingkai, sering kita melihat dan merasakan adanya
pandangan moral, politik dan pribadi dari penulisnya ketika mengomentari
kutipan pembicaraan atau teks. Laporan yang memuat pandangan moral, politik dan
pribadi dari penulis tidak bisa disebut dengan analisis. Pandangan penulis yang
bernada simpati atau mengejek tidak menjadikan apa yang ditulisnya menjadi
suatu analisa (wacana atau bingkai).[5]
3. Bukan analisa
jika bersifat mengeneralisir (Under-Analysis through False Survey).
Pelaku analisis
wacana dan framing sering terjebak dalam tindakan 'berbahaya' yaitu menjadikan
suatu temuan kasuistis individual sebagai sesuatu yang berlaku umum. Jika
terdapat temuan yang melibatkan mahasiswa di suatu universitas, misalnya, maka
hal itu juga ditulis seolah-olah berlaku bagi mahasiswa lainnya di universitas
lainnya.[6]
4. Analisa tidak
ditentukan dari banyaknya detail (Under-Analysis through Spotting)
Suatu analisa
wacana menuntut perhatian terhadap detail atau hal-hal kecil dari ucapan atau
teks namun tidak berarti besarnya perhatian terhadap aspek detail menjadikan
laporan sebagai suatu analisis.
5. Analisa tidak
ditentukan dari banyak kutipan (Under-Analysis Through Over-Quotation or
Isolated Quotation)
Jumlah kutipan
yang diambil dari transkrip tidak boleh terlalu banyak yang dapat mengurangi
porsi pandangan atau komentar penulis, tetapi juga tidak boleh terlalu sedikit
yang berfungsi hanya sekedar memperkuat pandangan penulis.[7]
KESIMPULAN
1. Penelitian
dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penelitian ilmiah yang terdiri atas
penelitian kuantatif dan penelitian kualitatif serta penelitian interpretatif.
2. Faktor
subyektif dalam penelitian interpretatif hanya boleh dilakukan oleh objek
penelitian dan membatasi subjektivitas pada diri peneliti.
3. Analisis
wacana dan bingkai lebih merupakan bentuk analisa saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar